Anda hidup di Medan. Melihat jalan rusak, sampah berserakan, begal berkeliaran, banjir. Nah itu takdir atau nasib? Kalau anda hidup di Medan kemudian menemukan ada Sungai Deli, Sungai Babura, dan ada laut di Belawan. Ini takdir atau nasib?
Saya ingin menjelaskan bahwa hal-hal pertama yang saya sebut diatas, adalah nasib. Jadi jalan rusak, sampah berserakan, begal berkeliaran, dan banjir itu bukan takdir. Itu nasib kita. Kalau keberadaan Sungai Deli, Sungai Babura dan laut di Belawa, jelas itu takdir kita.
Bagi saya sangat sederhana memaknai antara takdir dan nasib. Kalau takdir tak mungkinlah pula kita mengingkari atau menolak keberadaan “benda-benda” pemberian Tuhan itu. Tapi kalau Sungai Deli jorok itu baru nasib. Begitu juga jalan rusak, sampah dan lain-lain. Maka itu, yang namanya takdir tak bisa diubah, sedangkan nasib pasti bisa kita ubah.
Maka itu kawan, di Medan ini nasib kita yang agak jelek. Jalannya rusak, kotanya kotor, banyak begal dan sering kena banjir, karena pemimpin kita tak bisa membedakan mana takdir dan nasib. Mungkin, bagi dia, apa yang terjadi di Medan ini sudah ditakdirkan. Tetapi sungguh tidak bagi saya. Saya selalu bilang bahwa karena apa yang terjadi di Medan hari ini merupakan nasib kita, maka kita harus mengubahnya. Ayo bersama-sama kita mengubah nasib kita menjadi lebih baik. Biarkan saja pemimpin “gila takdir” itu tidur dan tak pernah bersama kita. Biarkanlah dia duduk tenang merenungi takdirnya. Sementara kita harus bekerja keras mengubah nasib kita. Nasib Kota Medan ini ada di tangan kita, termasuk nasib keluarga kita.
Salam
No comments:
Post a Comment