Wednesday, 18 February 2015

Sang Koboy di Warung Pecal Lele

Malam ini, 17 Februari 2015, sembari menuju pulang ke rumah, saya menyempatkan diri makan di warung favorit saya. Sebuah warung pecal lele sederhana yang terletak di Jl Setia Budi, Medan, tepatnya di depan Pom Bensin. Sejak 3 tahun terakhir ini, saya memang kerap makan malam disana. Sebenarnya tak ada yang beda warung pecal lele favorit saya ini dengan warung lain, kecuali sambalnya yang mantap.

Di warung pecal lele ini juga saya berkenalan dengan seorang pengamen. Dulu saya tertarik dengan pengamen ini karena gayanya yang unik. Ia memakai topi koboy setiap kali beraksi. Bagi saya, keunikannya memakai topi koboy sudah cukup alasan untuk berkenalan. Berbeda dengan pengamen lain, saya ketika itu mengajak Bang Koboy (panggilan pengamen) untuk makan bareng bersama saya. Sikap saya yang berbeda dengan pengamen lain, didasari perasaan bahwa Bang Koboy ini, bekerja ngamen dengan karakter sendiri. Kalau pengamen-pengamen lain, saya sering tak menggubris atau memberikan uang, karena memang saya tak suka dengan pengamen yang bergaya kebanyakan. Maka ketika saya melihat sosok pengamen seperti Bang Koboy, saya jadi tertarik.

Dari satu perjumpaan ke perjumpaan lain, saya semakin tahu aktivitas Bang Koboy. Saya mendapat cerita bahwa ia pernah ikut ajang pencarian bakat semacam Indonesian Idol dan X-Factor. Namun, ya nasib rupanya belum berpihak. Ia cuma melewati babak audisi. Saya juga mendapatkan informasi, Bang Koboy acap kali diundang ngamen di acara-acara peluncuran produk, ulangtahun, sampai kampanye capres. Terakhir, menurut ceritanya, ia sampai dibawa ke Jakarta untuk nyanyi di Rumah Polonia-nya Capres Prabowo-Hatta. Ketika itu, katanya, ia difasilitasi oleh Partai Gerindra Sumut untuk meramaikan suasana di Rumah Polonia. Saya tersenyum-senyum mendengar cerita Bang Koboy.

Bang Koboy juga pernah saya undang untuk ngamen di kantor saya. Saya pernah minta dia untuk menciptakan sebuah lagu untuk pengawas pemilu. Rekaman video ketika ia bernyanyi saya unggah ke Youtube dan bisa dilihat disini  Koboy-Selamatkan Pemilu Dari Bawaslu: http://youtu.be/aATu9_128ps

Selama pertemanan saya dan Bang Koboy di warung pecal lele itu, banyak cerita suka dan duka darinya saya dapatkan. Ia kadang bersemangat karena akan dapat job. Tapi di satu malam, ada kalanya ia lesu karena desakan ekonomi akibat sepinya tawaran ngamen. Oh ya, Bang Koboy, punya seorang isteri dan anak yang harus dihidupinya di rumah.

Beberapa bulan lalu, saat bertemu, dia bercerita mendapatkan tawaran ngamen di sebuah restoran Jerman. Letaknya tak terlalu jauh dari rumah saya. Saya mendorongnya untuk tak menyia-nyiakan tawaran itu. Dan, tadi sambil makan, ia menceritakan pada saya bahwa ia sudah rutin manggung di restoran Jerman tersebut. Saya gembira.

Sambil menyantap pecal lela, saya bertanya pada lelaki berusia sekitar 40 tahun ini, apalagi rencananya ke depan. Ia tak tahu. Ia cuma bisa pasrah. Bang Koboy kemudian meminta saran saya apa yang harus dilakukannya lagi. Walaupun sudah punya penghasilan tetap dari ngamen di restoran Jerman itu, saya menyarankan Bang Koboy tetap kreatif. Menciptakan lagu dan menyanyikannya di panggung, misalnya. Itu saran saya.

Selain itu, saya juga minta Bang Koboy belajar lebih banyak soal musik. Saya bilang, abang harus lebih banyak punya pengetahuan soal musik. Pengetahuan tentang musik dan sejarahnya itu penting untuk menjadi faktor pembeda antara Bang Koboy dengan pengamen kebanyakan. Saya bilang, alangkah enaknya jika sebelum menyanyikan sebuah lagu di panggung, Bang Koboy bisa menceritakan sejarah lagu yang akan dinyanyikannya, atau hal-hal lain yang menarik terkait lagu itu.

"Jadi misalnya, kalau abang mau nyanyi lagu My Way, ya ceritakanlah soal Frank Sinatra. Ceritakan bagaimana maksud lirik-lirik lagu ini. Ceritakan bahwa My Way merupakan lagu favorit Abu Rizal Bakri. Sebutkan bahwa seorang maestro seperti Ahmad Dhani sangat menyukai lagu ini. Cerita abang yang satu atau tiga menit itu, akan sangat berguna bagi penonton dan membangun atmosfir. Jika berhasil, abang akan membuat penonton terpukau," kata saya menjelaskan.

Nah, pengetahuan tentang musik tentu diperlukan disana. Maka itu, saya minta Bang Koboy belajar lebih banyak soal musik. saya bilang, gampanglah kalau soal belajar pengetahuan tentang musik. Cukup cari-cari saja di google.

Saya mencontohkan Ahmad Dhani. Pentolan grup musik Dewa itu, eksis dan dikenal karena ia punya pengetahuan musik yang mumpuni. Saya pernah membaca bahwa Dhani bukan hanya bisa bermain musik, namun memiliki pengetahuan yang baik soal sejarah, biografi dan berbagai hal terkait musik.

"Ini faktor pembeda Ahmad Dhani dengan musisi lain. Maka itu ia berhasil di dunia musik dan menjadi maestro," papar saya pada Bang Koboy.

Saya juga memberi semangat pada Bang Koboy, bahwa pada dasarnya ia sudah punya faktor pembeda. Dandanannya yang memakai topi koboy menjadi ciri unik. Tinggal konsisten saja mejaga style itu dan memberikan sentuhan pengetahuan, maka saya yakin Bang Koboy layak jual.

"Lupakan Idol atau X-Factor. Mungkin bukan disana jalannya. Kenapa nggak jadi semacam street singer saja. Saya yakin, jika konsisten, Bang Koboy bisa meraih kesuksesan," tegas saya padanya lagi.

Dia mengangguk dan tersenyum girang. Diskusi kami berjalan santai sambil mengunyah nasi uduk dan pecal lele. Usai makanan kandas, ia mengambil gitar kesayangannya dan memetik sebuah lagu.

Saya tersenyum, suara seraknya dan erangan gitarnya mengalun bait-bait lagu Better Man. Sebuah lagu kesukaan saya. Yeah, Lord I'm doing all I can, to be a better man! Asyik.......

Medan, 17 Februari 2015

No comments:

Post a Comment