Saya benar-benar marah sekarang! Saya tak dapat menahan emosi yang datang bergulung-gulung seperti ombak yang menerpa dada saya. Saya benci lelaki ini. Lelaki yang pengecut.
Saya memang unik. Saya tergantung begitu saja di luar tubuh lelaki ini. Saya dulunya berpikir bahwa saya tak punya kemauan sendiri. Tetapi seiring semakin dewasa, saya kemudian menyadari bahwa saya mempunyai kemauan sendiri. Dan jelas itu otoritas saya. Tak seorang pun termasuk lelaki ini yang bisa mengutak-atiknya.
Saya sudah sering membicarakan kemarahan saya pada lelaki ini. Sudah sering pula saya memberi peringatan padanya. Saya tidak suka diperlakukan seperti ini. Namun, dia tetap saja tak mau mendengar kata saya. Dia acuhkan semua permintaan saya. Keterlaluan sekali memang dia.
Kalau sekarang saya menceritakan ini pada Saudara dan Saudari, itu karena saya sudah tidak tahan lagi dengan perangainya pada saya. Sebenarnya saya tak enak hati jika menceritakan persoalan kami ini pada Saudara-Saudari. Ini kan urusan kami berdua: antara saya dan dia. Dan saya yakin, dia juga tidak akan senang jika mengetahui saya menceritakan masalah ini pada Saudara-Saudari. Pasti nanti dia akan menuduh bahwa Saudara-Saudari sebagai pihak ketiga. Saudara-Saudari pasti dituduh telah mencampuri urusan orang lain. Melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Saudara-Saudari akan bisa dituntutnya di muka pengadilan. Mengerikan sekali.
Tetapi jangan takut. Saya akan menyembunyikan cerita ini hanya untuk Saudara-Saudari. Tetapi tolonglah saya juga, jangan ceritakan urusan ini pada orang lain lagi. Itu pun kalau Saudara-Saudari menyadari akibat yang telah saya tuliskan di atas. Kalau pun nanti ketahuan bahwa saya membeberkan urusan kami pada Saudara-Saudari, saya akan berusaha menyangkalnya. Saya akan melindungi Saudara-Saudari. Percayalah.Yakinlah.
Urusan kami ini memang pelik. Rumit. Sebenarnya dia yang mengawali keretakan hubungan kami. Dasar lelaki tidak tahu diri. Saya sudah merelakan diri saya untuknya sepanjang hidup. Mengabdikan raga saya kepadanya. Mendampinginya kemanapun dia pergi. Tapi ya itu, dasar lelaki hidung belang. Dia telah mengkhianati saya. Betapa sakitnya hati saya ini, dinistakan sepanjang hidup saya. Saya benar-benar menderita dibuatnya.
Saya sebenarnya telah mencoba untuk membicarakan masalah kami. Saya ajak dia bicara baik-baik. Saya ajak dia berdiskusi untuk mencari pemecah ketegangan hubungan kami. Hasilnya, dia memang tak mau mendengar saya. Dia menganggap enteng diri saya. Dia tak menghargai saya.
“Sudahlah, kamu tak usah ikut campur urusan saya. Aku mau pergi dan tidur dengan perempuan manapun, kamu tak berhak melarangku,” begitu katanya ketika saya mempersoalkan tabiatnya.
“Tapi saya juga punya perasaan. Kamu tak bisa berbuat begitu. Kamu harusnya memikirkan perasaan saya,” saya masih mencoba membantahnya.
Lalu dia menjawab, “Heh....kamu itu jangan banyak bicara. Aku yang berhak mengatur hidupku dan hidupmu.”
“Saya tak membantah bahwa saya adalah milikmu. Tetapi tolong hargai saya. Sudah saya katakan tadi, saya juga punya perasaan. Jadi, tolong jagalah perasaan saya ini,” saya membalas dan hampir saja menangis.
Dia malah tertawa. Keras sekali. Hingga saya malu dengan tawanya ini. Semua orang melihat kami ketika itu. Itu karena suara tawanya yang bisa mengalahkan dentum house music yang mengurung kami. Kami memang sedang berada di sebuah ruangan yang hingar bingar. Dia kemudian menenggak anggur merah dari gelas tinggi yang dipesannya. Saya diam saja. Sambil tergeletak dalam malu.
Saudara-Saudari, dunia ini memang sudah gila. Malam ini, kami membicarakan persoalan yang pelik ini di sebuah pesta telanjang. Dia yang memaksa saya ikut. Mulanya dia cuma mengatakan teman-temannya akan mengadakan sebuah pesta yang heboh. Saya tak paham maksudnya. Ketika sampai ke tempat remang-remang ini, barulah saya tahu apa yang dimaksudnya heboh itu. Disini semua orang tanpa busana. Dia bugil. Saya apalagi. Tak bisa terkatakan malunya saya. Mulanya saya sudah mengatakan tak mau. Tapi dia memaksa. Dia kemudian melorotkan semua yang membalut tubuh saya. Jadi sejak itu semua orang bisa melihat saya dengan jelas. Ih....mengerikan sekali.
Saya benar-benar tersiksa, Saudara-Saudari. Tolonglah, saya benar-benar sudah muak dengan dia. Lelaki yang memiliki saya. Lalu kami melanjutkan percakapan kami yang terputus karena tawanya tadi. Disela-sela itu di depan kami berseliweran lelaki dan perempuan tanpa busana.
“Kamu senang dengan pesta ini?” dia bertanya. Sambil menatap saya.
“Apa sih enaknya pesta ini?” saya balik bertanya. “Saya sudah bosan dengan gaya hidup kayak kamu ini,” sambung saya.
“Bosan. Hahahahah.....kamu boleh saja bosan. Tapi apa daya kamu?”
“Oh ya! Kamu menganggap saya tak punya daya?”
“Ya! Kamu memang makhluk yang lemah.”
“Apa maksudmu lemah?”
“Kamu kan gak mungkin hidup tanpa aku.”
“Itu kan katamu!”
“Lihat saja.”
“Mungkin kamu yang tidak bisa hidup tanpa saya.”
“Mana mungkin.”
“Mungkin saja.”
“Nggak mungkin!”
“Mungkin!”
“Lantas, kalau aku tak bisa hidup tanpa kamu, maunya apa?”
“Entahlah.”
“Kamu mau meninggalkan aku?”
“Itu baru tidak mungkin.”
“Nah, berarti kamu kan yang tidak bisa hidup tanpa saya.”
Dia tertawa lagi. Kali ini mungkin terbahak. Atau keduanya. Tertawa sambil terbahak-bahak.
“Kamu akan tahu nanti. Saya akan melakukan pembalasan.”
“Kamu mengancam ya?”
“Tidak.”
“Lho, itu tadi, kamu mengancam saya.”
“Kamu yang merendahkan saya.”
“Siapa yang bilang?”
“Ucapanmu tadi yang mengatakannya.”
“Jangan begitu. Aku tidak bermaksud seperti itu lho.”
“Kamu memang gombang.”
“Siapa yang gombal?”
“Kamu.”
“Aku?”
“Ya.”
“Memangnya kenapa kalau aku gombal?”
“Aku tak suka.”
“Kenapa?”
“Karena kau melakukan itu pada semua perempuan.”
“Mereka yang mau itu.”
“Mereka terpaksa menerimanya, tahu kamu!” Aku menekan suara pada suku kata terakhir.
“Ah, sudahlah. Kita kan saling membutuhkan. Aku akui itu. Lupakan saja perkataanku tadi.”
“Mana bisa.”
“Kok begitu.”
“Ya, saya bilang mana bisa. Kamu sudah menyakiti saya.”
“Aku kok nggak merasa menyakiti kamu?”
“Huh....”
“Lalu.”
“Lihat saja, nanti saya akan melakukan pembalasan.”
“Hah.....pembalasan. Kamu ingin mendendam padaku. Keterlaluan kamu!”
Lelaki itu hampir saja membanting gelas tinggi yang berisi anggur merah yang menggantung di jarinya. Matanya mendelik. Mulutnya hendak mengucapkan banyak lagi kata. Tapi tak ada yang keluar.
“Kamu yang keterlaluan!”
Saya seperti mendapatkan peluang untuk menyudutkannya.
“Apa kamu bilang?”
Lelaki itu mendelik. Biji matanya seolah mau melompat keluar. Mungkin kalau saja tak dibungkus kelopak yang dalam hingga menjadikan sosok matanya sendu dan indah, biji itu akan terlepas. Dia lalu melanjutkan, “Kamu yang tak tahu diuntung. Sudah aku beri kamu makan. Sudah aku beri kamu pakaian. Sudah aku jaga kamu. Tapi kamu tak mau menurut kataku. Dasar.”
“Siapa yang tak tahu diuntung? Kamu yang tak tahu diri. Seenaknya saja kamu pakai saya. Tak peduli siang atau malam. Saya selalu setia melayani kamu. Dimana pun kamu mau saya selama ini tidak pernah protes. Dengan perempuan manapun saya tidak pernah protes. Dengan gaya apapun, saya tak pernah protes. Mau masuk dari depan atau dari belakang, saya tidak pernah protes. Jadi siapa yang tak tahu diuntung, kamu atau saya?” Berondongan kata-kata itu mengalir. Saya hampir-hampir menangis. Saya tak mampu lagi berkata-kata. Semua tumpahkan kekesalan saya pada dia dengan menangis.
Saya lihat dia terdiam. Menarik rokok kreteknya dan menatap kerumunan orang dimana para lelaki dan perempuan berjoged tanpa busana. Tampaknya dia seperti merenungi semua perkataan saya. Wajahnya tampak sedikit berubah ketika menatap saya. Saya biarkan saja dia begitu. Maksudnya agar dia sadar.
Tapi perempuan itu memang bangsat. Ia muncul ketika kami sedang melakukan pembicaraan yang maha serius ini. Dengan senyum nakal. Dengan tubuh molek dan kulit putih mulus. Dengan kerlingan mata yang menggoda semua lelaki, termasuk dia.
“Kok dari tadi duduk sendiri?” perempuan itu berkata. Ia kemudian meletakkan pantatnya di kursi sebelah dia. Tubuhnya tak dibalut busana. Alat-alat tubuhnya yang merangsang itu berjuntai-juntai. Dia menatap wanita ini dengan pandangan yang sudah sangat berbeda ketika menatap saya tadi.
Perempuan ini memang perempuan bangsat. Mungkin ia bangsanya pelacur. Mana ada sih perempuan yang mau bugil di tempat seramai ini kalau bukan pelacur. Dasar pelacur! Ia juga tidak menganggap saya ada. Ia tadi bertanya bahwa lelaki ini cuma sendirian. Jadi saya ini dianggapnya apa?
Saya benar-benar ditiadakan. Keberadaan saya dialpakan. Mereka kemudian terlihat berbicara sambil tertawa-tawa. Seperti tadi, tawa lelaki ini memang besar. Semua orang selalu menatap ke arah kami saat dia tertawa. Sedang perempuan itu, tawanya kayak kuntilanak. Cekikikan hingga bahunya terangkat-angkat. Hingga buah dadanya terayun-ayun.
Jadi mereka tertawa-tawa. Kadang mereka juga berciuman. Lama sekali. Saya cuma berusaha tidak menatap mereka. Saya memang telah ditiadakan. Jadi lebih baik saya membuang muka.
Saudara-Saudari, cerita saya memang agak jorok. Atau juga porno. Itu terserah penilaian Saudara-Saudari. Soal pesta tanpa busana ini, saya pun mulanya tak percaya. Ketika membaca buku yang ditulis teman saya: Memoar Emka, dugaan saya pesta seperti ini hanya rekaannya belaka. Tapi kini saya percaya. Saya menyaksikannya. Kalau Saudara-Saudari ingin tahu lebih lengkap soal pesta bugil ini, saya sarankan untuk membaca saja buku teman saya itu. Saudara-Saudari tentu sudah tahulah. Jadi tak perlu saya memberitahu lagi.
Mereka masih tertawa-tawa dengan lebih mesra. Saya jelas tak enak dengan suasana ini. Lalu setelah malam semakin larut. Dan hawa dingin di dalam ruangan ini makin dingin. Mereka memutuskan untuk tidur. Tentunya tidurnya bersama. Kalau tidur seorang-seorang, tak perlulah bertemu disini.
Saya diajak lelaki itu. Kami berada dalam sebuah ruangan 3X3 meter. Disini lebih hangat ketimbang diluar sana. Perempuan itu merebahkan tubuhnya di ranjang yang ada di tengah ruangan. Terlentang. Pasrah. Dia sudah tak sabar. Diterkamnya perempuan itu dengan kebuasan birahi. Mereka kembali tertawa. Lelaki itu tertawa kencang-kencang. Perempuan itu tertawa cekikikan. Persis mak Lampir.
Mereka bergulingan. Kadang lelaki itu diatas. Kadang dibawah. Kadang mereka juga terjatuh dari ranjang. Kemudian bergulingan lagi di atas karpet. Berdekapan dengan bibir saling terpagut. Ketawa lagi. Merintih-rintih lagi. Mengerang-ngerang lagi.
“Kamu memang lelaki perkasa. Kami mampu merangsang saya dengan kesempurnaan birahi,” perempuan itu berbisik di telinga dia. Sambil terengah-engah karena terangsang.
“Kamu juga menggairahkan. Akan kumakan kamu malam ini. Akan kulumat seluruh tubuhmu malam ini,” lelaki itu berteriak seperti membaca puisi.
Saya diam saja memperhatikan mereka. Sebenarnya saya bisa saja mulai beraksi. Tapi itu tak saya lakukan. Saya hanya diam. Tanpa ekspresi. Saya tahu apa yang akan saya lakukan malam ini. Saya sudah menyusun rencana ketika dia mengajak saya masuk ke ruangan ini.
Sebenarnya saya sudah tahu apa yang diinginkannya. Saya sudah bisa menebak debar jantungnya yang berdetak kencang. Saya dapat merasakan sorot matanya yang merah dengan nafsu birahi. Saya sudah tahu ketika pori-porinya semakin melebar. Saya sudah sadar ketika lidahnya melet-melet di bibir.
Saudara-Saudari saya memang terpaksa menuruti kemauannya selama ini. Saya ikuti semua keinginannya selama ini. Saya tak menolak dia mau dengan perempuan macam apapun. Mau dengan gaya apapun. Saya tak bermaksud membela diri ataupun munafik bahwa saya menikmati petualangannya selama ini. Terus terang saya menikmati perempuan-perempuan yang disajikannya pada saya.
“Hei kawan, apalagi yang kamu tunggu. Laksanakan tugasmu. Aku membutuhkan kamu malam ini, kawan. Lihat saja, perempuan itu sedang menunggu kamu dan aku. Ayolah kawan,” lelaki itu berkata padaku. Dengan kata-kata membujuk. Aku diam saja. Tak kugubris bujukannya.
“Ehmmm....kenapa sih. Kok kamu cuma berdiri saja disitu. Ayo dong, aku sudah tidak tahan,” perempuan itu merayu dia.
“Ayolah kawan. Bangunlah. Jangan buat aku malu malam ini. Kita kan sahabat. Jangan kecewakan ia malam ini,” lelaki itu terus membujukku.
“Saya tidak mau. Saya sudah bosan,” saya menjawabnya.
Lelaki itu terkejut. Dia pasti tak menyangka aku sanggup melawannya. Dan dia hampir saja marah. Tapi bara di dadanya tak mau menjadi api karena ada api birahi yang telah lebih dulu menguasai disana.
“Kawan, aku sudah cukup sabar mendengar semua ocehanmu malam ini. Jangan sampai aku kehilangan sabar.”
“Silahkan. Saya tidak akan menurutimu malam ini. Silahkan.”
Saya menantangnya tanpa menunjukkan perlawanan.
“Ah, kamu memang bodoh. Lihat, perempuan itu sudah menyerah untuk kita. Apalagi yang kamu tunggu. Bangunlah!”
Saya tak bergeming.
“Kamu mau melawanku ya?”
Saya terdiam. Mulai terasa ada rasa jeri dan takut. Dia kelihatan mulai marah. Warna merah di matanya tadi yang saya lihat disaput kabut birahi, kini berganti dengan merah api amarah.
“Kalau kamu melawanku! Tterpaksa aku akan menghukummu,” suaranya menggelegar seperti halilintar.
“Sudah saya bilang tadi, silahkan saja. Saya tidak takut.”
“Bangsat! Kupotong kamu. Kupotong kamu. Akan kuiris kamu sampai berdarah-darah.”
Saya bergidik. Dia pasti sungguh-sungguh. Dia pasti tidak main-main.
Lelaki itu kemudian menyambar pisau yang tergeletak di meja di dalam ruangan ini. Pisau itu biasanya untuk memotong buah apel.
“Apakah kamu masih keras kepala?” Dia meletakkan pisau itu dekat dengan leher saya. Gayanya benar-benar mengancam saya.
Setelah itu ternyata dia benar-benar mengiris saya. Jadi bukan langsung memotongnya. Begitu cairan merah muncrat membasahi karpet yang juga berwarna merah, perempuan yang tergeletak di ranjang itu menjerit histeris. Wajahnya ditutup rapat-rapat untuk menahan pandangan matanya yang tak tahan menyaksikan saya diiris. Sungguh kejam lelaki ini. Dia tega berbuat seperti ini pada saya. Tapi sudahlah saya juga sudah muak bersamanya.
Saudara-Saudari, untuk pertama kali sepanjang hidup lelaki itu, saya menolak keinginannya malam ini. Saya telah tunjukkan bahwa saya punya otoritas sendiri. Saya telah buktikan bahwa saya bisa menolak penistaan yang dilakukannya malam ini. Saya tak ingin lagi ada perzinahan. Cukuplah yang kemarin-kemarin itu. Saya tak mau lagi mulai malam ini.
Telah saya katakan diatas. Saya ini memang unik. Saya tergantung begitu saja, di luar tubuh semua lelaki. Dan kalau saya sedang marah seperti ini, saya akan enggan berdiri tegak bak tiang bendera. Saya akan cuek bebek. Saudara-Saudari, pasti mahfum, kemarahan saya kali ini telah menimbulkan kepanikan yang luar biasa dari lelaki itu: sang pemilik saya. Karena saya adalah Mr Happy.
Pancoran, Agustus 2004
No comments:
Post a Comment